Gus Kikin Pimpin PBNU 2026–2031, Ning Lia: Penataan SDM Kunci Menguatkan Khidmat NU

BERITA UTAMA, DAERAH, NEWS270 Dilihat

SURABAYA TARGETTEMPO.COM – Kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 di bawah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin diharapkan tidak hanya menghadirkan program-program besar, tetapi juga memperkuat fondasi internal organisasi.

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, M.E.I., menilai langkah menempatkan penataan sumber daya manusia (SDM) dan organisasi sebagai prioritas menjadi bagian penting dalam membangun PBNU yang semakin solid dan efektif.

Menurut perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu, organisasi sebesar Nahdlatul Ulama membutuhkan tata kelola yang kuat serta sumber daya manusia yang memiliki kapasitas, integritas, dan semangat kebersamaan.

“Penataan sumber daya manusia merupakan fondasi yang sangat penting. Organisasi sebesar NU membutuhkan SDM yang kuat, memiliki kapasitas, integritas, serta mampu bekerja bersama dalam menjalankan khidmat organisasi,” ujar Ning Lia, Selasa (1/9).

Ia menegaskan, keberhasilan organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya program yang dirancang. Lebih dari itu, kesiapan struktur dan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor utama agar setiap agenda dapat dijalankan secara maksimal.

Bagi Ning Lia, konsolidasi internal harus menjadi perhatian serius dalam perjalanan PBNU lima tahun ke depan. Setiap unsur organisasi perlu memiliki arah gerak yang sama agar agenda besar NU benar-benar mampu diterjemahkan menjadi program yang menyentuh kebutuhan warga Nahdliyin dan masyarakat luas.

“Ketika organisasi semakin tertata dan SDM-nya semakin kuat, tentu pelaksanaan program akan lebih efektif. Yang terpenting adalah manfaatnya benar-benar bisa dirasakan oleh umat dan masyarakat,” katanya.

Menurut Ning Lia, setelah fondasi internal semakin kokoh, PBNU memiliki ruang besar untuk memperkuat berbagai sektor strategis yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Ekonomi, pendidikan, dan kesehatan menjadi tiga bidang yang dinilainya memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui kekuatan jaringan NU yang telah mengakar hingga tingkat bawah.

Di bidang ekonomi, Ning Lia melihat NU memiliki modal sosial yang sangat besar. Jaringan organisasi yang tersebar luas dapat menjadi kekuatan dalam mendorong pemberdayaan masyarakat, meningkatkan kapasitas pelaku usaha, serta memperkuat kemandirian ekonomi berbasis komunitas.

“NU memiliki kekuatan luar biasa karena sangat dekat dengan masyarakat. Potensi tersebut harus terus dikembangkan agar pemberdayaan ekonomi semakin kuat dan memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan warga,” tutur Ning Lia.

Selain ekonomi, sektor pendidikan juga menjadi perhatian penting. Dengan jaringan pesantren dan lembaga pendidikan yang luas, NU dinilai memiliki peran strategis dalam mempersiapkan generasi masa depan.

Menurut Ning Lia, pendidikan tidak hanya berbicara mengenai kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, nilai keagamaan, kepedulian sosial, serta kemampuan menghadapi perkembangan zaman.

“Pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Generasi muda harus memiliki ilmu dan kompetensi yang baik, tetapi tetap dibekali karakter, kepedulian sosial, serta nilai-nilai yang kuat,” ujarnya.

Sementara dalam sektor kesehatan, Ning Lia menilai NU juga memiliki peluang besar untuk memperkuat kontribusi sosial melalui edukasi, peningkatan literasi kesehatan, pencegahan penyakit, hingga pelayanan yang dapat menjangkau masyarakat.

Menurutnya, keberadaan organisasi kemasyarakatan yang memiliki jaringan langsung dengan warga menjadi kekuatan penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan dasar di bidang kesehatan.

“Kesehatan adalah kebutuhan mendasar masyarakat. Karena itu perhatian terhadap sektor ini harus terus diperkuat, baik melalui edukasi, pencegahan, maupun berbagai bentuk pelayanan sosial yang dapat dijangkau masyarakat,” katanya.

Ning Lia berharap kepemimpinan Gus Kikin pada periode 2026–2031 mampu membawa PBNU semakin kokoh secara kelembagaan dan semakin responsif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Ia menekankan bahwa penataan SDM dan organisasi tidak boleh berhenti sebatas agenda administratif. Konsolidasi internal harus menjadi pijakan untuk memastikan seluruh program besar NU dapat berjalan berkelanjutan.

“Harapannya tentu PBNU semakin solid, semakin kuat dalam menjalankan khidmat organisasi, dan program-programnya semakin dirasakan masyarakat. Penataan internal adalah fondasi, sementara tujuan akhirnya adalah bagaimana NU terus memberikan kemaslahatan seluas-luasnya,” pungkas Ning Lia.

Dengan kekuatan basis sosial yang besar serta jaringan organisasi yang menjangkau hingga akar rumput, PBNU periode 2026–2031 dinilai memiliki peluang luas untuk memperkuat kontribusinya dalam pembangunan masyarakat.

Penataan SDM dan penguatan organisasi menjadi pijakan awal, sebelum berbagai agenda strategis di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan umat dijalankan secara lebih optimal.

(Anil)