Muktamar NU Gerakkan Ekonomi Tambakberas, Ning Lia: Berkahnya Dirasakan dari UMKM hingga Penyandang Disabilitas

BERITA UTAMA, DAERAH, NEWS227 Dilihat

JOMBANG TARGETTEMPO.COM — Ribuan warga Nahdlatul Ulama yang memadati kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, selama pelaksanaan Muktamar ke-35 NU ternyata membawa dampak besar bagi kehidupan ekonomi masyarakat sekitar.

Di tengah padatnya agenda organisasi dan silaturahmi warga Nahdliyin, roda ekonomi di kawasan Tambakberas ikut berputar lebih cepat. Warung makan ramai, pedagang mendapatkan pelanggan tambahan, pelaku UMKM membuka lapak, hingga penyedia jasa ikut menikmati meningkatnya aktivitas masyarakat.

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau Ning Lia, menyebut geliat tersebut sebagai salah satu sisi penting dari pelaksanaan agenda besar yang melibatkan ribuan orang.

Menurut Ning Lia, Muktamar NU bukan hanya tentang forum pengambilan keputusan organisasi, melainkan juga menghadirkan dampak nyata bagi warga yang tinggal dan menjalankan usaha di sekitar lokasi kegiatan.

“Ketika sebuah kegiatan besar menghadirkan ribuan orang, tentu kebutuhan masyarakat juga meningkat. Di situlah ekonomi warga bergerak. Warung menjadi ramai, UMKM mendapatkan pembeli, dan berbagai jasa juga ikut dibutuhkan,” ujar Ning Lia.

Ia mengaku terkesan karena peluang ekonomi tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh pelaku usaha besar, tetapi juga masyarakat kecil dan kelompok penyandang disabilitas.

Panji dan Rekan-rekannya Menangkap Peluang

Salah satu cerita yang mendapat perhatian Ning Lia adalah perjuangan Panji Perdana, warga Kediri yang merupakan penyandang tunanetra.

Panji datang ke kawasan Muktamar NU bersama empat rekannya dengan membawa kemampuan yang mereka miliki, yakni memberikan layanan pijat.

Tanpa tempat khusus dan fasilitas mewah, mereka membuka layanan sederhana dengan menggelar tikar.

Namun, keterbatasan fasilitas tidak mengurangi semangat mereka untuk bekerja.

Selama kegiatan berlangsung, Panji dan rekan-rekannya membuka layanan pijat sepanjang hari. Banyak peserta yang membutuhkan pijat setelah menjalani aktivitas dan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan muktamar.

Panji mengaku dalam sehari mampu melayani sekitar belasan pelanggan.

“Dalam sehari bisa melayani sekitar belasan orang,” kata Panji.

Dari hasil kerja tersebut, Panji bersama empat rekannya mengaku memperoleh penghasilan hingga belasan juta rupiah selama pelaksanaan Muktamar NU.

Bagi Ning Lia, cerita tersebut menjadi bukti bahwa kesempatan ekonomi dapat membuka ruang kemandirian bagi siapa saja.

“Saya sangat terharu melihat semangat Panji dan teman-temannya. Mereka tidak datang untuk meminta belas kasihan, tetapi datang membawa keterampilan dan bekerja. Ini adalah contoh tentang kemandirian,” ungkap Ning Lia.

Ia menegaskan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk tetap produktif ketika seseorang memiliki kemampuan dan kesempatan.

Warung Warga Ikut Kebanjiran Pembeli

Dampak positif Muktamar NU juga dirasakan Ahmad Syafi’i, pemilik Warung Lele Legend yang berada di kawasan Gang IV Pesantren Bahrul Ulum.

Sebelum Muktamar NU digelar, pendapatan harian warung tersebut berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.

Namun, meningkatnya jumlah pengunjung ke Tambakberas membuat jumlah pelanggan ikut melonjak.

Syafi’i mengaku pendapatan usahanya selama pelaksanaan muktamar mengalami kenaikan lebih dari 100 persen.

“Ini benar-benar berkah Muktamar. Alhamdulillah, pendapatan warung naik lebih dari 100 persen,” ujarnya.

Selain usaha kuliner warga, pelaku UMKM juga mendapatkan kesempatan besar melalui penyediaan sekitar 1.300 tenant dalam UMKM Expo dan Bazar Muktamar.

Ribuan peserta dan pengunjung menjadi pasar potensial bagi para pelaku usaha untuk memperkenalkan produk mereka.

Ning Lia mengatakan cerita dari Panji maupun para pemilik usaha menjadi gambaran bahwa agenda besar harus mampu memberikan dampak kepada masyarakat sekitar.

Menurutnya, masyarakat lokal seharusnya menjadi bagian dari manfaat ekonomi yang tercipta, bukan hanya menjadi penonton dari keramaian sebuah kegiatan.

“Yang harus kita dorong adalah bagaimana masyarakat sekitar ikut tumbuh. Ketika ada kegiatan besar, warga lokal harus mendapatkan ruang dan kesempatan untuk memperoleh manfaat,” tegasnya.

Meski demikian, Ning Lia mengingatkan agar besarnya perputaran ekonomi selama Muktamar NU tidak disimpulkan berdasarkan perkiraan semata.

Menurutnya, angka ekonomi harus didukung data transaksi yang jelas dan terukur.

“Kalau berbicara nilai total perputaran ekonomi, tentu harus ada data. Tetapi dari cerita langsung masyarakat, kita bisa melihat bahwa manfaat ekonomi itu benar-benar dirasakan,” katanya.

Ning Lia berharap, manfaat yang muncul selama Muktamar ke-35 NU tidak berhenti bersamaan dengan berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan.

Ia berharap para pelaku UMKM mendapatkan pelanggan baru, usaha warga semakin dikenal, serta jejaring ekonomi yang terbentuk dapat terus berkembang.

“Semoga setelah muktamar selesai, manfaatnya tetap berlanjut. Ada pelanggan baru bagi UMKM, ada jaringan baru, dan ada peluang ekonomi yang terus tumbuh bagi masyarakat,” pungkasnya.

(Anil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *