SLAWI, TARGETTEMPO.COM — Keris Gagrak Tegal kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui Festival Keris Nusantara Bumi Tegal Arum yang berlangsung di Gedung Rakyat Kabupaten Tegal, Jumat (4/9/2026).
Mengusung tema “Pesona Keris Gagrak Tegal”, festival yang digagas Paguyuban Tosan Aji Nusantara Patra Ganesha Kabupaten Tegal tersebut tidak hanya memajang berbagai pusaka. Kegiatan itu juga menjadi upaya memperkenalkan sejarah dan kekayaan tradisi keris kepada generasi muda.
Wakil Bupati Tegal Ahmad Kholid mengatakan keberadaan keris harus dilihat sebagai bagian dari warisan pengetahuan dan kebudayaan, bukan semata-mata benda peninggalan masa lalu.
Menurutnya, pelestarian akan kehilangan makna apabila hanya berorientasi pada penyimpanan benda pusaka tanpa disertai pemahaman mengenai nilai, keterampilan, filosofi dan proses yang menyertainya.
“Jangan sampai generasi muda hanya mengenal keris dari bentuknya, tetapi tidak memahami bahwa di baliknya terdapat proses, keterampilan, nilai budaya, serta perjalanan panjang masyarakat yang menjaganya,” kata Kholid.
Ia berharap festival tersebut dapat membuka ruang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal karakter budaya Tegal sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap warisan leluhur.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Tosan Aji Nusantara Patra Ganesha Kabupaten Tegal, Teguh Dwijanto Raharjo, menyebut festival kali ini memiliki arti tersendiri. Pasalnya, pameran keris dalam skala besar kembali digelar setelah beberapa tahun tidak berlangsung di Kabupaten Tegal.
“Pesertanya datang dari berbagai daerah. Ada dari Bali, Surabaya, Malang, Madura, Yogyakarta, Semarang, Batam, Pekalongan sampai Jakarta,” jelas Teguh.
Sekitar 80 peserta tercatat mengikuti kegiatan tersebut dengan dukungan kurang lebih 120 meja untuk pameran dan aktivitas festival.
Salah satu perhatian utama dalam festival adalah pengenalan karakter Keris Gagrak Tegal. Teguh menyebut karakter tersebut tidak terlepas dari latar geografis Tegal yang memiliki hubungan kuat dengan kawasan pesisir dan budaya maritim.
Salah satu unsur yang diperkenalkan adalah warangka perahu labuh, yang menjadi bagian dari identitas dan karakteristik keris Gagrak Tegal.
Festival semakin menarik dengan hadirnya koleksi pusaka dari luar daerah. Salah satunya dibawa Heri, peserta berusia 64 tahun asal Denpasar, Bali.
Heri membawa keris yang diperkirakan berusia sekitar dua abad. Pusaka tersebut memiliki perpaduan material gading, perak dan emas serta dilengkapi hiasan batu rubi.
Ia menjelaskan, keris tersebut memiliki sejarah panjang dan pada masa lalu dipercaya digunakan sebagai senjata dalam peperangan.
Beragam koleksi yang hadir sekaligus memperlihatkan bahwa dunia Tosan Aji masih memiliki peminat dari berbagai daerah. Keris tidak hanya menjadi benda pusaka, tetapi juga menjadi pintu untuk mempelajari sejarah, seni, keterampilan serta perjalanan kebudayaan masyarakat Nusantara.
Paguyuban Tosan Aji Nusantara Patra Ganesha berharap kegiatan tersebut dapat digelar secara berkelanjutan. Dengan demikian, keberadaan keris Gagrak Tegal tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah, tetapi tetap hidup melalui pengetahuan dan regenerasi para pecinta budaya.
(Fauzi/Targettempo.com)
