Hari Ketiga Pencarian KM Arupadatu 1, Polri Perluas Penyisiran di Selat Sunda

NASIONAL, NEWS, PERISTIWA46 Dilihat

TARGETTEMPO.COM JAKARTA – Upaya menemukan delapan orang yang masih hilang setelah KM Arupadatu 1 kehilangan kontak di perairan Selat Sunda terus diperluas. Memasuki hari ketiga operasi SAR, Polri menambah kekuatan di laut dengan mengerahkan KP Sanjaya-7017 serta menempatkan personel pada unsur KN SAR Tetuka milik Basarnas.

Sebanyak 59 personel Polri dilibatkan dalam operasi pencarian tersebut. Komando di lapangan dipimpin langsung Dirpolairud Polda Banten Kombes Pol Eko Hartanto, S.I.K., M.H., yang turut berada di atas KP Sanjaya-7017 untuk memantau jalannya penyisiran.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, pola pencarian pada hari ketiga dilakukan dengan memperluas jangkauan sekaligus memperkuat koordinasi antarpersonel dan instansi yang terlibat.

“Memasuki hari ketiga, Polri terus mengoptimalkan pencarian delapan orang yang masih dalam pencarian setelah KM Arupadatu 1 hilang kontak. Sedikitnya 59 personel Polri dikerahkan dan kekuatan di lapangan dipimpin langsung oleh Dirpolairud Polda Banten,” ujar Trunoyudo dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

KP Sanjaya-7017 kembali bergerak setelah sebelumnya turut melaksanakan pencarian pada hari kedua. Kapal patroli tersebut menjadi salah satu unsur Polri yang ditugaskan menyisir kawasan perairan yang diperkirakan berkaitan dengan posisi terakhir KM Arupadatu 1.

Sebelum memulai operasi, seluruh personel di atas KP Sanjaya-7017 mengikuti briefing untuk menyamakan pola pencarian. Sekitar pukul 08.00 WIB, kapal bergerak bersama KN SAR Tetuka menuju perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.

KP Sanjaya-7017 membawa 36 orang, terdiri dari 27 awak kapal, lima personel Ditpolairud Polda Banten, dua personel Basarnas dan dua awak media. Sementara KN SAR Tetuka diperkuat tiga personel Ditpolairud Polda Banten.

Pembagian kekuatan tersebut menjadi bagian dari strategi pencarian berbasis sektor. Basarnas Banten membagi area operasi hari ketiga menjadi enam sektor dengan luas keseluruhan sekitar 2.483 nautical mile square (NM²).

Dalam pembagian tersebut, KP Sanjaya-7017 bertugas di sektor B yang terbagi menjadi delapan sub-sektor, mulai B1 hingga B8. Adapun KN SAR Tetuka melaksanakan penyisiran di sektor C yang juga dibagi menjadi delapan sub-sektor, yakni C1 sampai C8.

Menurut Trunoyudo, sistem pembagian sektor diperlukan agar penyisiran berlangsung terarah dan setiap wilayah dapat diperiksa sesuai koordinat yang telah ditentukan.

“Pencarian dilakukan secara sistematis berdasarkan sektor dan koordinat dengan mempertimbangkan posisi terakhir kapal, arah angin, arus, gelombang, cuaca dan perkembangan informasi di lapangan,” jelasnya.

Petugas di lapangan tidak hanya mencari keberadaan korban. Setiap unsur juga mengamati kemungkinan adanya benda, bagian kapal, perlengkapan keselamatan maupun petunjuk lain yang dapat membantu mengungkap posisi KM Arupadatu 1.

Operasi tersebut melibatkan lebih dari 280 personel gabungan. Kekuatan pencarian berasal dari berbagai unsur, antara lain Polri, Basarnas, TNI, Bakamla, KSOP, BPBD, unsur kewilayahan, potensi SAR, nelayan, masyarakat, media serta keluarga korban.

Dukungan peralatan juga diperkuat dengan kapal SAR, kapal patroli, RIB, sarana udara, drone thermal, peralatan medis dan komunikasi hingga kendaraan pendukung di darat.

“Polri berkolaborasi dengan Basarnas, TNI, Bakamla, KSOP, BPBD dan seluruh potensi SAR lainnya. Lebih dari 280 personel gabungan serta berbagai sarana pencarian dan pendukung dikerahkan pada hari ketiga,” kata Trunoyudo.

Namun, operasi pencarian menghadapi tantangan kondisi alam. Cuaca di sejumlah wilayah pencarian dilaporkan berawan tebal hingga berkabut. Angin berada di kisaran 15 knot, sedangkan tinggi gelombang di beberapa bagian area operasi dapat mencapai 2,5 hingga 4 meter.

Perubahan arus dan kondisi laut menjadi faktor lain yang harus diperhitungkan. Terlebih, pencarian dilakukan di sekitar Gunung Anak Krakatau sehingga aspek keselamatan personel dan perkembangan aktivitas gunung api terus menjadi perhatian.

“Kami memahami ada keluarga yang menunggu kepastian. Karena itu, pencarian akan terus dilakukan secara maksimal, terukur dan terpadu dengan tetap memperhatikan keselamatan seluruh personel yang berada di lapangan,” tegas Trunoyudo.

Di tengah berlangsungnya operasi SAR, Polri juga melakukan penyelidikan untuk mengetahui rangkaian peristiwa sebelum kapal tersebut hilang kontak. Subditgakkum Ditpolairud Polda Banten pada Rabu malam telah meminta keterangan sejumlah pihak, termasuk pemilik kapal, pekerja galangan serta pihak yang berkaitan dengan proses docking dan perbaikan KM Arupadatu 1.

Penyelidikan berjalan beriringan dengan operasi pencarian. Meski demikian, prioritas Polri saat ini tetap menemukan delapan orang yang masih dinyatakan dalam pencarian.

Polri turut meminta bantuan masyarakat, khususnya nelayan dan pihak yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda, untuk segera melaporkan apabila menemukan informasi atau petunjuk terkait KM Arupadatu 1 maupun delapan orang yang dicari.

Masyarakat juga diingatkan agar tidak melakukan pencarian sendiri tanpa koordinasi dengan petugas SAR. Kondisi laut serta kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau memiliki risiko yang membutuhkan penanganan terkoordinasi.

“Jika memiliki informasi, segera sampaikan kepada Basarnas, Polri atau aparat berwenang. Jangan mengambil tindakan sendiri, karena kondisi laut dan kawasan Gunung Anak Krakatau memiliki risiko yang harus diperhitungkan,” pungkas Trunoyudo.

TARGETTEMPO.COM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *