TARGETTEMPO.COM YOGYAKARTA – Persaingan di dunia pendidikan tinggi dinilai memasuki fase yang semakin berat bagi perguruan tinggi swasta (PTS). Perubahan status sejumlah perguruan tinggi negeri menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) dinilai turut mengubah peta persaingan dalam penerimaan mahasiswa baru.
Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU ASEAN Eng., menilai PTN-BH memiliki ruang lebih luas untuk mengembangkan kapasitas dan memperbesar daya tampung mahasiswa.
Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi membuat arus calon mahasiswa semakin terkonsentrasi ke perguruan tinggi negeri. Dampaknya, PTS harus menghadapi tantangan lebih besar untuk mempertahankan jumlah mahasiswa baru.
“Konsekuensi utama bagi PTS setelah PTN berubah menjadi PTN-BH adalah munculnya ketimpangan dalam penyerapan mahasiswa baru dan persaingan yang semakin ketat,” ujar Hari Purnomo dalam pelantikan pengurus DPW Ikatan Alumni UII di Yogyakarta, Jumat (21/8/2026).
Ia menjelaskan, fleksibilitas yang dimiliki PTN-BH memungkinkan perguruan tinggi negeri melakukan ekspansi, termasuk dalam meningkatkan kapasitas penerimaan mahasiswa. Situasi itu secara langsung dapat memengaruhi keberlangsungan sejumlah PTS.
Hari mencontohkan, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada tahun ini disebut mampu menerima mahasiswa baru dalam jumlah besar hingga sekitar 13 ribu orang.
Sementara itu, bagi sebagian PTS, memperoleh mahasiswa baru hingga 5.000 orang bukan perkara mudah. Perbedaan kapasitas tersebut menggambarkan besarnya tantangan yang harus dihadapi kampus swasta dalam memperebutkan calon mahasiswa.
Menurut Hari, persoalan tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai kompetisi antarkampus. Diperlukan perhatian pemerintah untuk memastikan ekosistem pendidikan tinggi tetap sehat dan memberikan ruang bagi PTS untuk berkembang.
Di sisi lain, perguruan tinggi swasta juga dituntut tidak hanya mengandalkan pola pengelolaan lama. Penguatan kualitas akademik, inovasi pembelajaran, reputasi kampus, serta kemampuan membaca kebutuhan dunia kerja menjadi bagian penting agar tetap memiliki daya tarik di tengah persaingan.
Jika ekspansi PTN-BH tidak diimbangi dengan kebijakan yang proporsional dan strategi penguatan PTS, Hari mengingatkan kondisi tersebut dapat memberikan tekanan serius terhadap keberlangsungan sejumlah perguruan tinggi swasta di masa mendatang.
Karena itu, diperlukan langkah bersama antara pemerintah dan pengelola PTS untuk mencari formula yang mampu menjaga keseimbangan sistem pendidikan tinggi nasional, sehingga peningkatan kapasitas PTN tidak berujung pada melemahnya keberadaan perguruan tinggi swasta.







