Ning Lia Ajak Generasi Muda Kawal Kebijakan Persoalan Publik

KEBANGSAAN, Politik33 Dilihat

TARGETTEMPO.COM PROBOLINGGO  Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, mendorong generasi muda agar tidak sekadar menjadi penonton dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Kaum muda dinilai perlu berani menyampaikan gagasan, mengkritisi kebijakan, serta ikut mengawal persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Ning Lia, sapaan Lia Istifhama, saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI di Probolinggo, Jumat (11/9/2026).

Kegiatan itu diikuti berbagai unsur masyarakat, termasuk kalangan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Hadir pula sejumlah penyelenggara pemilu, di antaranya Bawaslu Provinsi Maluku, Bawaslu Kabupaten Probolinggo, KPU Kabupaten Probolinggo, serta KPU Kota Probolinggo.

Dalam penyampaiannya, Ning Lia menegaskan bahwa Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika tidak semestinya berhenti sebagai materi yang hanya dipahami secara teoritis. Nilai-nilai Empat Pilar, menurutnya, harus menjadi landasan dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan masyarakat.

Ia secara khusus mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk lebih percaya diri menyampaikan aspirasi apabila menemukan kebijakan atau regulasi yang dinilai perlu dievaluasi.

“Saya ingin generasi yang lebih muda dari saya lebih proaktif mengambil peran, harus lebih speak up. Kalau ada regulasi negara yang sudah terlanjur disahkan, kita harus berani berbicara apakah memungkinkan adanya ruang revisi,” kata Ning Lia.

Menurutnya, keberanian menyampaikan pendapat merupakan bagian dari proses demokrasi. Namun, sikap kritis tersebut harus tetap dibangun dengan tanggung jawab, argumentasi yang konstruktif, serta ditempuh melalui mekanisme hukum dan konstitusi.

Ning Lia juga mengingatkan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai bagian dari masyarakat yang dapat ikut mengawal persoalan kemanusiaan dan kepentingan publik.

Ia menilai lingkungan kampus seharusnya tidak menjadi satu-satunya ruang bagi mahasiswa untuk belajar. Interaksi langsung dengan masyarakat juga penting agar generasi muda memahami persoalan yang benar-benar terjadi di lapangan.

Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia turut membagikan pengalamannya menerima pengaduan masyarakat mengenai dugaan persoalan mafia tanah. Ia mengaku memiliki pengalaman serupa karena keluarganya juga pernah menghadapi persoalan pertanahan yang hingga kini masih menjalani proses hukum.

“Tadi malam saya menerima tamu dari masyarakat yang menjadi korban mafia tanah atau mafia bersertifikat. Saya pun juga korban, orang tua saya menjadi korban dan sampai sekarang masih berproses hukum,” ujarnya.

Pengalaman itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa berbagai persoalan masyarakat membutuhkan kepedulian dan keberanian banyak pihak untuk mencari penyelesaian.

Karena itu, Ning Lia berharap mahasiswa tidak memilih diam ketika berhadapan dengan persoalan yang berkaitan dengan kepentingan publik. Aspirasi, kritik, maupun gagasan perubahan dapat disuarakan secara konstruktif dengan tetap menghormati aturan serta mekanisme konstitusional.

“Semua harus benar-benar bisa dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat,” tuturnya.

Dorong Kesinambungan Pembangunan melalui PPHN

Selain membahas peran generasi muda, Ning Lia turut menyinggung pentingnya Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) dalam menjaga kesinambungan pembangunan nasional.

Menurutnya, negara membutuhkan arah pembangunan jangka panjang yang dapat menjadi pedoman agar program strategis tidak mudah berubah hanya karena terjadi pergantian kepemimpinan.

“Jangan sampai ketika berganti presiden, pembangunan yang sudah dirancang kemudian tidak dilanjutkan. Di situlah pentingnya PPHN,” katanya.

Ning Lia juga mengingatkan bahwa politik semestinya tidak dipahami sebatas sarana untuk mendapatkan jabatan maupun kepentingan pribadi. Politik, menurutnya, harus ditempatkan sebagai instrumen untuk mengambil keputusan strategis sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.

Melalui Sosialisasi Empat Pilar tersebut, Ning Lia berharap generasi muda semakin aktif mengambil bagian dalam kehidupan publik. Kepekaan terhadap persoalan sosial, keberanian menyampaikan gagasan, dan kesediaan mengawal kebijakan dinilai menjadi bagian penting dari kontribusi anak muda terhadap bangsa.

Bagi Ning Lia, keberanian bersuara bukan berarti sekadar memperbanyak kritik. Lebih dari itu, suara generasi muda harus lahir dari kepedulian, memiliki dasar yang kuat, dan diarahkan untuk mendorong perubahan yang tetap berlandaskan nilai-nilai kebangsaan.

(Anil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *